jump to navigation

Review Novel “Laskar Pelangi” By Saya 25 Oktober 2008

Posted by Sony in Reviews.
trackback

Saya termasuk orang yang tidak gaul dalam masalah pernovelan Indonesia. Termasuk di dalamnya Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, dan novel yang sedang ternar saat ini, yaitu Laskar Pelangi. Tadinya saya tidak begitu tertarik untuk membaca novel ini. Namun, setelah timbul kesadaran dalam diri untuk menjadi lebih gaul dalam hal beginian, saya memutuskan untuk membacanya. Tadinya saya mau dipinjami novel ini oleh seorang teman. Sayangnya, novel miliknya itu sedang dipinjam oleh temannya. Karena novel itu tak kunjung saya dapatkan akhirnya saya berinisiatif untuk mendownload e-booknya saja dari internet. Pas sekali saat itu saya sedang refreshing setelah siang dan sore harinya ujian 2 mata kuliah yang termasuk berat. Sekalian saja saya download e-book Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih 1 dan 2 yang pada saat itu memang belum saya baca.

Akhirnya, saya mulai membaca novel itu dan halaman demi halaman saya semakin masuk ke dalamnya. Novel ini mengisahkan sekelompok anak kampung dari Pulau Belitong (Belitung) yang bersekolah di Sekolah Muhammadiyah di pulau itu. Karena kekurangan murid, biasanya sampai lulus teman sekelas mereka akan itu-itu saja. Bahkan, sususan bangkunya sama persis dengan susunan bangku ketika pertama kali masuk sekolah. Sekelompok ini menamakan diri laskar pelangi, nama pemberian ibunda gurunya, Bu Mus, melihat kebiasaan mereka yang suka melihat pelangi. Dan cerita pun terus mengalir, bagaimana mereka akhirnya mengetahui bahwa ada orang-orang jenius di antara mereka, bagaimana mereka menghindar dari maut, bagaimana cinta berurusan dalam hidup, dll.

Novel ini cukup unik karena mempunyai 2 jenis cerita. Yang pertama adalah cerita tentang kehidupan laskar pelangi dan yang kedua adalah cerita tentang keadaan Pulau Belitong pada saat itu. Cerita kehidupan laskar pelangi berisi cerita-cerita merka dari sudut pandang Ikal, salah seorang anggota laskar pelangi. Di dalamnya terkandung cerita tentang kehidupan nyata di Indonesia. Bagaimana seorang yang jenius terang cahayanya menjadi padam karena kesusahan ekonomi yang melilit mengakibatkan dia harus putus sekolah. Cerita-cerita yang ternyata ada di kehidupan nyata. Cerita-cerita yang membuka mata pembacanya bahwa ada kehidupan seperti itu di sebuah daerah di Indonesia ini.

Yang kedua, cerita tentang keadaan pulau Belitong, lebih seperti film dokumenter yang dinovelkan. Kita bisa megetahui bagaimana kehidupan orang-orang miskin yang hanya bekerja sebagai nelayan, kuli PN, berkebun seadanya sangat kontras dengan kehidupan foya-foya staf PN yang rumahnya bergaya Victoria, mempunyai kolam yang indah, taman yang luas, pakaian yang dipakai adalah pakaian yang mahal-mahal, dsb. Sungguh sebuah situasi yang sangat kontras. Cerita-cerita ini dapat kita gunakan sebagai cerminan keadaan Indonesia. Sebuah kesenjangan sosial yang sangat besar antara si kaya dan si miskin dan bagaimana yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.

Salah satu yang kurang saya sukai dari novel ini adalah banyaknya penggunaan nama-nama ilmiah dalam cerita-ceritanya. Hal ini membuat pembaca kurang nyaman dalam membaca. Apalagi glosarium diletakkan di bagian belakang novel alih-alih ditulis sebagai footnote. Hal ini menambah ketidakpraktisan memahami istilah-istilah ini. Selain itu, imajinasi pembaca bisa mandeg jika mereka tak memahami istilah-istilah tersebut.

Hal lain yang kurang saya sukai adalah alurnya yang tidak jelas. Tidak seperti Harry Potter atau Ayat-Ayat Cinta dengan alur yang enak diikuti, cerita-cerita dalam Laskar Pelangi ini alur waktunya dibolak-balik sehingga membingungkan pembaca. Apalagi tidak disebutkan tahun berapakah tiap-tiap peristiwa itu terjadi. Alur lurus akan membuat pembaca yang selesai membaca satu bab, lalu melihat sedikit bab berikutnya akan merasa penasaran dan “nanggung” untuk berhenti membaca barang sejenak. Tidak demikian dengan laskar Pelangi yang tiap babnya seperti bagian terpisah-pisah. Ibarat komik, Laskar Pelangi ini mirip komik Doraemon atau Shinchan yang mempunyai cerita-cerita terpisah.

Meskipun mempunyai beberapa kekurangan tadi, saya merasa hal itu bukan masalah besar bagi novel ini karena kekuatan utamanya bukan pada kebagusan alur atau kejelasan makna kata-katanya. Menurut saya, kekuatan terbesar novel ini ada pada cerita-ceritanya, terutama pada bagian 12 tahun kemudian. Bagian itu sungguh menyentuh hati saya. Sungguh suatu ironi kehidupan. Bagaimana anak-anak berbakat mengalami antiklimaks, sedangkan yang terlihat biasa saja malah menjadi sukses. Saat membaca bagian itu hati saya seperti tersayat-sayat. Sungguh suatu cerita yang mengharukan.

Pada akhirnya, saya ingin mengatakan, walaupun ada beberapa kekurangan pada novel ini, itu tak menjadi masalah karena kekuatan novel ini terdapat pada ceritanya yang sungguh menyetuh hati. Bagaimanapun orang menilainya, novel ini tetap menjadi salah satu novel terbaik dalam sejarah pernovelan Indonesia.

P.S : sebenarnya saya juga ingin membahas filmnya, tapi ditunda dulu karena belum nonton. Kemarin ngantri udah kehabisan tiket (T-T)

gambar : http://almaokay.files.wordpress.com/2008/05/laskarpjk2.jpg

Komentar»

1. novrian - 25 Oktober 2008

kalo belum nonton filmnya tetep aja masih tidak gahol.. hehe..

pertamax..
telat review bukune..

2. Sony HP - 25 Oktober 2008

meh piye meneh… waktu tak dapat diputar balik…
kata pepatah “lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali”
saya pengin mencurahkan apa yang saya rasakan tentang buku ini
sayangnya saya tidah gahol tadinya
satu lagi kata pepatah “penyesalan selalu datang terlambat”
ah, pepatah yang menyebalkan…

3. *wanwan - 26 Oktober 2008

gw lm baca novelna lo.. pilemnya jg blm

4. Sony HP - 26 Oktober 2008

horeeee, ternyata ada yang lebih tidah gahol dari saya \(^-^)/
insya Allah nanti malem mau nonton filemnya bersama kawandh2, dan tadi malem udah dunlud yang sang pemimpi sama edensor juga…

5. Azhari Mayondhika - 28 Oktober 2008

wah say tidak gahol tapi keren B-)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: