jump to navigation

Kaitan tragedi zakat dengan liberalisme 21 September 2008

Posted by Sony in Yang serius-serius.
trackback

Tragedi zakat di Pasuruan beberapa waktu yang lalu memang menambah duka negeri ini. Bagaimana untuk mengambil zakat yang 30.000/orang mereka rela berdesak-desakan, bahkan sampai menelan korban jiwa sebanyak 21 orang dan 10 orang dilarikan ke rumah sakit.

sistem yang digunakan oleh H. Saekhon (kalo g salah) dalam membagi zakat memang salah. Menurut tuntunan nabi, zakat seharusnya diberikan melalui amil-amil atau lembaga2 zakat yang sudah banyak sekarang ini. Terbukti, degan menggunakan cara mereka sendiri terjadi suatu tragedi yang sungguh memilukan.

nah, apa kaitannya dengan liberalisme ? Jadi begini. liberalisme memberi kebebasan untuk tiap individu untuk melakukan apapun sesuka mereka. Inilah yang sadar atau tidak mendasari perbuatan keluarga itu tadi dalam mengambil cara membagi zakat. Alih-alih menaati perintah rasulullah, mereka memakai cara sendiri. Mindset masyarakat yang hari2 ini senantiasa dipenuhi dengan mindset liberal, dalam alam bawah sadar membuat mereka seringkali memakai cara sendiri dalam melakukan sesuatu, padahal sudah ada cara yang dituntunkan rasulullah. Ini yang seringkali membawa keburukan dalam kehidupan. Misalnya, dalam sistem ekonomi yang kapitalis (yang diturunkan dari paham liberalisme) pengambilan pajak dikatakan untuk membangun negara. Memang pajak itu digunakan untuk membangun, tapi yang menikmati hasil pembangunan itu adalah orang2 yang relatif mampu, bukan orang2 yang untuk makan saja seing kesusahan. Zakat sebaliknya, langsung menyasar orang2 kurang mampu, sehingga kemiskinan bisa dientaskan bukti nyatanya pada saat khalifah umar…(umar syp y, satunya umar bin khattab). Saat itu di sana yang tadinya muzakki (orang yang wajib memberi zakat) hanya khalifah itu sendiri, kemudian menjadi semua orang di sana menjadi muzakki sampai2 bingung zakat itu mau disalurkan ke mana.

inilah salah satu dampak liberalisme yang merajalela. Membuat orang2 seringkali tak mengikuti cara yang sudah dituntunkan, tapi mencari cara mereka sendiri dalam melakukan sesuatu.

Wallahua’lam bis shawab

Komentar»

1. dzikrina - 23 September 2008

ironi bgt ya,,,
hbise di Indo tu badan zakatnya banyak, dan masyarakat kurang percaya sama lembaga spt itu…

klo di Malaysia mreka ngaturnya baik, percaya, dan amanah jdi bisa mbangun negara,,,ngga ada tragedi,,,

yang aneh aneh emang cuma ada di Indonesia ^^

2. Sony HP - 23 September 2008

yak, khalifah yang saya sebut di artikel itu adalah Umar bin Abdul Aziiz. Ada kisah lain juga tentang zakat. yang ini tentang Umar bin Khattab saat beliau menjadi khalifah. jadi saat beliau berjalan-jalan, beliau mengetahui bahwa ada rakyatnya yang kekurangan makanan. beberapa waktu kemudian, beliau menuju ke rumah tersebut dengan MEMIKUL SENDIRI (!!!) karung berisi bahan makanan yang beliau zakatkan kepada orang itu. sungguh cerita yang menggugah.

3. YoHang 07 - 25 September 2008

Nganu penx, ojo lali, minimal setor 100rb! XP

4. Sony HP - 26 September 2008

setor opo yog ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: