jump to navigation

Seri Bahasa SWD 1 – Metode atau metoda ? 4 Juli 2008

Posted by Sony in Seri Bahasa SWD.
trackback

(Yang menderita sindroma tes klinis jangan membaca ini!)

Pertanyaan yang sama dapat diajukan yaitu : periode atau perioda dan kode atau koda. KBBI memang masih cenderung menulis metode sementara itu banyak karya ilmiah yang cenderung menggunakan metoda. Unutk kepentingan jangka panjang dalam dunia kademik, penyerapan kata bahasa Inggris tertentu dengan menambah akhiran a lebih menguntungkan dan lebih alamiah dari sudut pandang ucapan orang Indonesia. Lebih dari itu akan meniadakan ketaktaatasasan (inkonsistensi) dalam istilah bahasa Indonesia.

Beberapa istilah yang sudah mengikuti kaidah ini antara lain: hibrida (hybrid), katoda (cathode), anoda (anode), kurva (curve), fakta/pakta (fact/pact), frasa (phrase), marka (mark), sinusoida (sinusoid), bromida (bromide), kolega (colleague), aksioma, (axiom), glukosa (glucose), garda/guarda (guard), verba (verb), pestisida (pesticide), piramida (pyramid), klona (clone), lensa (lens), dan Roma (Rome).

Pembentukan kata semacam itu juga memudahkan untuk membentuk kata turunan misalnya, “pengkodaan” lebih mudah diucapkan daripada “pengkodean” unutk padanan kata coding. Demikian juga, “pengkurvaan” dan “pengklonaan” (cloning) lebih natural atau luwes diucapkan daripada “pengkurvean” dan “pengklonean.” Aturan mengenai kemudahan dan keluwesan mengucapkan ini dalam bahasa Arab disebut tajwid.

Kapan dunia akademik mempengeruhi selera umum dan bukan sebaliknya kesalahan umum merasuki dunia akademik?

Sampaikan argumen (bukan stratagem) mengenai hal ini ke pos-el suwardjono@ugm.ac.id ! (Argumen dapat menyertai bahan bantahan, ketaksetujuan, keberatan, kekhawatiran, dukungan, kesetujuan, atau apapun mengenai gagasan ini.)

Contoh stratagem :

Ah masalah begitu saja dipikir, itu hanya buang-buang energi.

KBBI saja pakai metode kok kita aneh-aneh. Pokoknya ….

Bahasa itu yang penting tahu maksudnya, tidak usah repot-repot. What’s in a name!

Nanti disangka salah tulis.

Kalau kita mengganti yang sudah ada, nanti masyarakat bingung.

Bahasa itu bukan matematika tapi soal rasa. Jadi, rumus bahasa tidak berlaku.

Bahan ini dapat dikopi dan disebarluaskan untuk bahan diskusi.

(artikel asli dibuat oleh : Dr. Suwardjono, M. Sc. Dosen jurusan akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada-penx)

Komentar»

1. Muhsin Ali - 11 Januari 2012

lieur karena tidak konsisten sejak awal terutama dirusak mulai oleh para pejabat pendahulu kita


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: