jump to navigation

Persepsi waktu dan prioritas : monochronic vs polychronic 22 Mei 2008

Posted by Sony in Yang serius-serius.
trackback

Secara garis besr persepsi waktu dan prioritas dapat dibagi menjadi 2, yaitu monochronic dan polychronic (saya tulis dalam ejaan bahasa Inggris karena saya tidak menemukan arti atau serapannya dalam Bahasa Indonesia). Masyarakat negeri-negeri barat, termasuk Amerika, adalah masyarakat yang monochronic, sedangkan masyarakat Timur, negeri-negeri benua Asia termasuk Indonesia, adalah penganut (penganut di sini bukan dalam bidang agama) polychronic. Mari kita lihat karakteristiknya :

Monochronic

1. Melakukan satu hal dalam satu waktu
2. Berkonsentrasi pada pekerjaan
3. Memperhatikan komitmen waktu (deadline, jadwal) dengan sangat serius
4. Low-context dan butuh informasi
5. Berkomitmen pada pekerjaan
6. Sangat teguh dalam rencana
7. Tidak suka mengganggu orang lain; mengikuti aturan privasi dan pertimbangan
8. Menunjukkan respek tinggi terhadap barang milik pribadi, jarang meminjam atau meminjami
9. Menekankan pada ketetapan waktu
10. Terbiasa pada hubungan jangka pendek

Polychronic

1. Melakukan banyak hal bersamaan
2. Sangat mudah terganggu dan mengganggu (menginterupsi)
3. Menganggap komitmen waktu adalah hal yang harus dicapai, jika memungkinkan
4. High-context dan sudah memiliki informasi
5. Berkomitmen pada orang lain dan hubungan antar individu
6. Sering dengan mudahnya mengganti rencana
7. Lebih memperhatikan relasi-relasi dekat (keluarga, teman, dan rekan bisnis) daripada privasi
8. Sering dan dengan mudah meminjam dan meminjami barang
9. Menekankan pada hubungan antar individu
10. Punya kecenderungan kuat untuk membangun hubungan seumur hidup

Notes : perbedaan low-context dan high-context
1. Low-context
a. Sedikit mendapat informasi , misalnya :
– Seorang dokter tidak mengetahui gosip perceraian artis terkenal
b. Sangat specialized, misalnya :
– Seorang tukang kayu sangat mahir dalam bidangnya, tapi tidak tahu bagaimana membetulkan motor yang rusak
c. Banyak bicara karena menganggap orang lain tidak tahu apa yang dia bicarakan
2. High-context
a. Banyak mendapat informasi, misalnya :
– Seorang guru tahu kabar meninggalnya orang terkenal
b. Tidak terlalu specialized, misalnya :
– Seorang tukang roti selain bisa membuat roti juga bisa membetulkan TV dan radio yang rusak
c. Sedikit bicara karena menganggap orang lain tahu apa yang dia bicarakan

Seringkali terjadi clash saat dua budaya ini bertemu. Misalnya, orang Indonesia menunggu orang Amerika untuk meeting sambil telepon dengan klien sampai meeting terlambat 15 menit. Hal ini sudah biasa bagi orang Indonesia, tapi orang Amerika merasa jengkel dengannya. Contoh lain misalnya dalam suatu presentasi orang Amerika yang high-context sebagai orang yang melakukan presentasi dan orang Indonesia sebagai audiens. Orang Amerika akan menerangkan hal yang dia presentasikan dengan sangat mendetail sampai orang Indonesia berpikir, “orang ini kok menghina sekali, dia pikir saya nggak tahu apa?” sebaliknya saat orang Indonesia yang melakukan presentasi orang Amerika berpikir, “ini orang gimana sih, nerangin sesuatu kok nggak jelas, pelit ngomong banget” .

Nah, kita juga sebaiknya memahami perbedaan-perbedaan ini agar tidak menimbulkan clash saat kita harus berhubungan dengan orang dari budaya yang berbeda dari budaya kita. Dengan memahami kedua jenis persepsi waktu dan prioritas ini kita bisa memahami bagaimana budaya kita dan bagaimana budaya yang lain. Dengan begitu, tidak terjadi kericuhan karena hal-hal kecil yang penting, tapi menjadi terabaikan karena ketidaktahuan kita.

Komentar»

1. canggih - 4 Juni 2008

ooo itu tho yang kau maksud……….
ternyata orang Indonesia memang sudah dari sananya ahli dalam bidang “Parallel Processing”

2. noerma123 - 4 Juni 2008

berhentilah bicara tentang komputer………

ayo kita bicara bagaimana membubut itu….

eh OOT ya…tapi gppp deh, inikan contohnya polychrinic….🙂

3. Sony Haryo Prabowo - 5 Juni 2008

ini juga salah satu sebab acara di Indonesia sering molor dan moloorrrrr………

4. myazura - 6 Juni 2008

jd t’ingt nunggu dosen mpe garing.. 1jam bo’..

5. raka - 9 Maret 2010

salam kenal,, sumbernya dari mana ya? saya sedang membutuhkan bahan ini, sungguh menarik,
trimakasih banyak

6. Sony HP - 10 Juni 2010

wah lupa bahannya dari mana😀 ini saya juga kompilasi saja kok


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: