jump to navigation

Ahmad Sumiyanto, Perintis pembiayaan syariah 26 April 2008

Posted by Sony in Sehari-hari.
trackback

BMT adalah pilihan yang populer untuk pembiayaan usaha kecil dan menengah. Selain persyaratannya yang mudah, sasaran BMT memang usaha menengah ke bawah. Salah satu BMT yang sangat terkenal adalah BMT Al-Ikhlas. BMT Al-Ikhlas adalah BMT pertama di Indonesia. BMT inilah yang pertama kali memberikan solusi pembiayaan syariah bagi pihak-pihak yang menyadari bahwa bunga adalah riba.

Jika kita berbicara tentang BMT Al-Ikhlas, tentu kita tak bisa lepas dari tokoh di balik berdiri dan suksesnya. BMT Al-Ikhlas didirikan oleh seorang lulusan program D3 Ekonomi UGM bernama Ahmad Sumiyanto. Sosok yang lebih akrab disapa Pak Anto ini mendirikan BMT Al-Ikhlas pada tahun 1995. BMT ini berdiri hanya dengan modal 500.000 rupiah yang merupakan pinjaman, bukan dana miliknya sendiri. Dia memulai usaha ini di sebuah garasi mobil milik temannya di Pogung Baru. Strateginya adalah penyebaran brosur-brosur yang utamanya ditujukan untuk aktivis-aktivis dakwah yang menyadari haramnya bunga. Strategi ini berhasil dan BMT Al-Ikhlas berhasil mendapatkan 15 juta rupiah pada bulan pertamanya beroperasi. Usahanya pun berkembang hingga berhasil memiliki aset sebesar 350 juta pada tahun 2000.

Pada saat itu dia mencoba usaha lain, yaitu ekspor kaligrafi ke Turki dan Belanda. Sayangnya, usahanya kali ini menemui kegagalan. Suhu Turki dan Belanda yang berbeda membuat produk-produk kaligrafi itu rusak. Beliau mengalami kerugian sebesar kurang lebih 200 juta rupiah. Beliau yang pada saat itu telah dikaruniai 2 orang anak ini sempat merasa sangat depresi sampai terpikir di benaknya kalau dalam agama Islam bunuh diri diperbolehkan, ia akan bunuh diri. Akan tetapi, dia percaya malam tidak malam terus, pasti ada siang, dan siang tidak siang terus, pasti ada malam.

Kemudian beliau memfokuskan diri pada membangun kembali BMT Al-Ikhlas bersama beberapa orang yang bertahan setelah kejatuhan bisnis kaligrafi tadi. Dengan usaha kerasnya dan rekan –rekannya yang rela rapat hingga jam 3 pagi, akhirnya BMT Al-Ikhlas kembali menjadi badan usaha yang besar, bahkan lebih besar dari sebelumnya. Selain di Yogyakarta (kantor pusat BMT Al-Ikhlas), BMT Al-Ikhlas juga membuka cabang di beberapa kota lain seperti Klaten.

Itulah cerita Bapak Ahmad Sumiyanto membangun BMT Al-Ikhlas dari garasi mobil di Pogung Baru hingga memiliki cabang di beberapa kota. Mungkin banyak orang yang penasaran tentang latar belakang tokoh yang sangat sukses ini. Sebenarnya dia berasal dari keluarga yang sederhana dari suatu daerah bernama Brosot di Kecamatan Galur, Kulonprogo. dia adalah bungsu dari 5 bersaudara. Ayahnya seorang petani. Namun, dia adalah seorang anak yang cerdas. Dia senantiasa menjadi juara kelas sejak SD. Setelah lulus dari SMA 1 Wates dia melanjutkan ke perguruan tinggi pada tahun 1989. Sebenarnya dia diterima di UNY yang pada waktu itu masih bernama IKIP, tetapi dia memilih untuk melanjutkan studinya di D3 Ekonomi UGM. “Biar cepat kerja,” katanya. Saat kuliah itulah dia belajar menjadi pemimpin dan mendapat pendewasaan personal dengan bergabung dalam Jamaah Salahudin (JS). Di JS dia biasa mendapat masalah dan tekanan dari sana-sini sehingga mentalnya terbentuk menjadi mental yang kuat. Di JS pula kualitas keimanannya ditempa. Dia lulus kuliah tahun 1993. Dia memilih mendirikan BMT Al-Ikhlas bersama dua orang temannya yang lulusan SMEA pada tahun 1995. Alasannya memilih mendirikan BMT adalah pikiran bahwa uang muncul karena gagasan. Alasan lainnya memilih BMT, bukan usaha yang lain, adalah latar belakangnya yang aktivis dakwah dan adanya kesempatan memberi solusi untuk masyarakat. Kemudian dia menempuh S2 jurusan ekonomi Islam di UII. Sebenarnya ia ingin meneruskan S3 di Kuala Lumpur. Namun, amanah dakwah membuatnya memilih tinggal di Yogyakarta menjadi ketua DPW Yogyakarta PKS. Selain itu, jabatan ketua perhimpunan BMT indonesia juga diembannya.

Itulah latar belakang dan kisah Ahmad Sumiyanto dalam membangun BMT Al-Ikhlas. Semoga kita terinspirasi dari kisah ini, sehingga kita dapat menjadi orang yang sukses seperti beliau.

“Bersama kesulitan ada kemudahan”

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: